Nama aku susilawati, anak ke enam dari delapan bersaudara. Aku menulis kalimat per kalimat ini ketika usiaku menginjak angka 22 tahun. Pada usia 20 an katanya adalah masa yang berat pada manusia usia tersebut pada umumnya. Masa berat jika ia mahasiswa tingkat akhir, si gap year yang masih menunggu kampus idamannya menerimanya, atau si bingung cari kecocokan pekerjaannya, dan bisa jadi si resah yang ingin menikah karena iri pada temannya. Setiap individu pasti berbeda, dari latarbelakang keluarga yang berbeda pula. Namun aku mempunyai prinsip dan pikiran sendiri terhadap umurku kini. Menjadi dewasa tidaklah mudah, meski bisa melakukan pekerjaan secara mandiri, kerap kali tuntutan jadi beban tersendiri. Aku ingin menikmati kesibukan ku kini, aku ingin menangis semauku saat lelah melakukan segalanya sendiri. Tapi aku juga akan selalu menyayangi diriku sendiri, pada kondisi apapun. Aku akan meminta dan memberi maaf pada setiap kesalahan yang aku lakukan. Menjadi dewasa tidaklah menyenangkan jika kamu berharap itu akan kenyataan. Dewasa. Sebagian mengartikan dewasa dalam ekspetasi yang tinggi. Katanya, dewasa itu ga boleh nangis kek anak kecil, cengeng katanya. Padahal semakin dewasa kita harus memahami segala kesedihan itu sendiri. Karena air mata sebenarnya adalah penguat setelah ketepurukan. Dewasa katanya tidak menunda pekerjaan dan tugas sendiri, padahal banyak alasan yang seseorang akan menjeda bahkan berhenti melakukan hal tersebut. Mungkin apa yang selama ini ia kerjakan hanyalah kewajiban semata dan tidak perlu ada apresiasi atau dukungan lain bahkan juga ada hal lain yang mematahkan semangatnya. Dewasa. Dulu melihat seseorang di usia tersebut, aku selalu ingin menjadi dia. Aku akan banyak berbicara, melakukan hal hebat dsb. Nyatanya, saat ini aku menemukan banyak teman yang kadang aku anggap sebagai tempat cerita. Sayangnya, semakin dewasa semakin terseleksi teman mana yang sevisi denganku. Aku mengira dia akan antusias mendengar cerita suka dukaku, tapi nyatanya mereka mendengar tanpa menatap bahkan ia akan lupa cerita apa yang telah kamu utarakan. Maka pada saat itu, aku tahu kepada siapa aku harus memilih teman yang tepat. 22 tahun usiaku. Aku telah lulus sd, smp, sma, dan sedang mengenyam semester akhir perkuliahan. Pada usia ini, aku banyak kehilangan teman bermain, teman bertanya, maupun teman nongkrong. Sebagian kabarnya menikah dan punya anak. Sebagian bekerja di tempat yang mereka pilih dan sebagian juga sama sepertiku, pejuang tugas akhir. Apa yang aku rasakan saat ini, masih abu abu. Aku tidak ingin mengikuti alur kehidupan orang lain. Ketika mereka sebagian punya anak, aku masih banyak memikirkan ilmu apa yang sudah ku persiapkan untuk jadi seorang ibu. Aku merasa belum pantas. Lalu aku melihat teman ku yang bekerja tentunya mempunyai uang gaji, lagi lagi aku menakar diri bahwa aku lemah dalam bekerja. Dan aku memutuskan untuk menjadi aku dalam kenyataannya sebagai mahasiswa tingkat akhir, menikmati proses menuju sesuatu yang lebih besar. Proses pendewasaan diri setiap orang memang sangat berbeda. Mungkin dia akan belajar dewasa selama hidupnya, dan aku juga sedang belajar tanpa tapi, agar menjadi dewasa bukan sesuatu yang harus ditakuti apalagi dihindari. Terima kasih aku untuk tetap bertahan hingga sampai saat ini. Aku sayang aku.